Homosexual

Sumber : http://www.faktailmiah.com/2010/07/18/perilaku-homoseksual-dipengaruhi-oleh-gen-dan-lingkungan-secara-acak.html

 

Ingat bahasan kami mengenai fakta ilmiah banci / bencong (transgender)? Sebagian transgender ada yang straight (menyukai lawan jenis) sebagian lagi homoseksual (menyukai jenis yang sama dengan jenis kelaminnya sendiri). Sebagian transgender juga tidak suka dengan tubuhnya yang berbeda, ada juga yang senang kalau tubuhnya berbeda.
Sekarang saya akan membahas mengenai homoseksual. Hal ini berbeda sekali dengan transeksual. Homoseksual biasanya terpaksa menjadi seolah transeksual (banci) agar dianggap normal oleh masyarakat. Lebih mudah menjadi seorang homoseksual yang sekaligus transeksual, daripada homoseksual yang maskulin atau feminin sejati. Tapi ini semata faktor lingkungan. Bagaimana dengan faktor genetiknya?
Hasil penelitian yang paling kokoh mengenai landasan genetik homoseksual adalah penelitian para ilmuan dari Sekolah Biologi dan Kimia Ratu Mary dan dari Institut Karolinska. Laporan mereka ditulis dalam jurnalArchives of Sexual Behavior,. Mereka menemukan kalau faktor lingkungan dan genetik, tergantung individunya, dan termasuk pula proses biologi seperti paparan hormon saat dalam rahim (eugenetik), menjadi penentu perilaku homoseksual.

Peneliti besar di bidang orientasi seksual dan juga ilmuan yang menemukan hal ini, Dr Qazi Rahman, menjelaskan kalau studi mereka meruntuhkan anggapan kalau homoseksual semata akibat pengaruh gen, atau kalau homoseksual hanya semata karena lingkungan. Mereka menemukan kalau kedua faktor ini secara kompleks mempengaruhi perilaku homoseksual tersebut. Dan ini bukan hanya berlaku pada homoseksual tapi juga berarti straight (heteroseksual).

Tim penelitian ini dipimpin oleh Dr Niklas Långström dari Institut Karolinska di Stockhlom. Mereka mempelajari survey dengan sampel seluruh populasi kembar dewasa berusia 20 – 47 tahun di Swedia. Baik itu kembar identik maupun non identik (fraternal). Dengan mempelajari orang kembar, kita bisa melihat langsung perbedaan diantara keduanya. Seorang Kembar identik memiliki gen dan lingkungan yang sama dengan saudara kembarnya. Sementara itu, kembar fraternal, hanya memiliki separuh gen saudara kembarnya maupun lingkungannya. Dengan demikian, kesamaan yang besar dalam sifat kembar identik dengan sifat kembar fraternal akan menunjukkan kalau hanya faktor genetik semata yang mempengaruhi sifat tersebut.
Studi ini mengamati 3826 saudara kembar gender sama (7652 individu). Mereka ditanya mengenai jumlah total pasangan romantis dari jenis kelamin yang sama dan berbeda yang pernah mereka miliki. Penemuan ini menunjukkan kalau 35 persen perbedaan antara pria dalam perilaku ketertarikan pada jenis kelamin yang sama, disebabkan oleh genetik.
Menurut Rahman, Genetik berpengaruh sekitar 35% atas perbedaan antara pria dalam perilaku homoseksual dan faktor lingkungan yang tergantung individunya (artinya bukan pengaruh sosial, keluarga atau pemeliharaan masa kecil) berpengaruh sebesar 64%. Dengan kata lain, bukan hanya karena gen seorang bisa menjadi homoseksual, tapi juga karena lingkungan ini.
Bagi wanita, faktor genetik berpengaruh sekitar 18 persen variasi perilaku seks sejenis, lingkungan non sosial sekitar 64 persen dan faktor keluarga sekitar 16 persen.
Studi ini menunjukkan kalau faktor yang paling mempengaruhi perilaku homoseksual bukanlah genetika maupun lingkungan, tetapi justru eugenetika. Artinya hal-hal yang mempengaruhi janin saat dalam kandungan! Lebih hebat lagi, ternyata lingkungan sama sekali tidak berpengaruh pada pria homoseksual.

Walau begitu, yang namanya penelitian ilmiah, tentu saja tidak bebas kritik dari ilmuan lainnya. Menurut Rahman sendiri penelitian ini lebih teliti mempelajari pria, namun kurang teliti pada wanita. Walau menurut Rahman penelitian mereka tidak memiliki bias, ilmuan lain berpendapat kalau penelitian ini bias, selain itu ada juga yang bilang kalau penelitian ini hanya berlaku untuk Swedia saja, belum tentu di Indonesia, misalnya.
Selain itu, penelitian ini juga mendapat dukungan. Ambil contoh Witelson et al. Dua tahun sebelumnya mereka sudah menemukan kalau genetika memang berpengaruh pada perilaku homoseksual pria. Jadi, penemuan Rahman bukanlah hal baru.
Penelitian lain yang lebih tua lagi oleh Kinnunen et al (2003) menemukan metabolisme otak ada pengaruhnya pada perilaku seksual pria. Walau metabolisme otak bisa disebabkan karena gen pembentuk otak ataupun bisa juga karena mengkonsumsi obat atau bahkan karena perilaku dalam kandungan, studi Rahman bisa menjelaskan hal ini. Kemungkinan metabolisme otak yang berbeda pada pria homoseksual disebabkan oleh pengaruh saat dalam kandungan.
Sementara itu, untuk wanita, homoseksual (lesbian) tampak memiliki perbedaan fisik dengan heteroseksual. Wanita homoseksual memiliki telinga dalam yang lebih lemah daya pantul suaranya dari pada wanita heteroseksual. Ini aneh, tapi memang begitu adanya. Siapa tau suatu saat kita bisa meletakkan alat di telinga untuk menunjukkan kalau kita lesbian atau tidak. Pasangan lesbian akan mudah menemukan jodohnya dengan cara ini. Berkat penemuan McFadden dan Pasanen (1997)
Mengenai kinerja bagaimana? Well, kalau anda bicara kinerja membayangkan secara visual seperti membaca peta, menurut hasil penelitian Maylor et al (2007) anda akan menemukan urutan dari yang terbaik ke yang terburuk adalah : pria heteroseksual, pria biseksual, pria homoseksual, wanita homoseksual, wanita biseksual, dan wanita heteroseksual. Ini bukti nyata kalau cewek jauh lebih sulit memahami peta daripada cowok.
Tampaknya otak homoseksual berbeda, karena kita tahu masalah pembayangan visual adalah masalah otak, tepatnya di kening dekat mata anda. Otak Homoseksual menjadi otak transisi antara pria dan wanita. Dan dugaan ini tepat sekali. Savic dan Linstrom (2008) memang menemukan demikian.
Bila transeksual ada yang membenci dirinya kenapa dilahirkan beda (transnegativitas), begitu juga homoseksual. Ada homoseksual yang membenci kalau dirinya homo, dan ini dinamakan homonegativitas. Para peneliti telah menemukan kalau homonegativitas pria ada hubungannya dengan kerentanan orang tersebut pada penyakit. Jika anda homo dan tidak suka anda homo, maka anda mungkin memiliki fisik lebih rentan penyakit, begitu hasil penelitian Rosser et al (2008)
Tapi, jangan kecil hati dulu. Hughes et al (2009) justru menemukan fakta kalau HIV-AIDS lebih cepat berjangkit pada pria heteroseksual daripada homoseksual. Entah bagaimana, homoseksual lebih sulit dihinggapi penyakit ini. Well, paling tidak di Inggris. Homoseksual inggris lebih hati-hati dari pada heteroseksualnya.
Dan perbandingan antara gay kidal dengan semua gay, serta perbandingan lesbian kidal di antara semua lesbian, lebih besar secara signifikan, daripada perbandingan heteroseksual kidal di antara semua heteroseksual (Lalumiere et al, 2000). Well, seperti anda tahu kalau orang kidal banyak yang pintar, berarti kalau kamu lesbian atau gay, bisa jadi anda juga kidal. Dan bisa jadi anda pintar secara akademis.
Dan homoseksual bukan hanya pada manusia, tapi bahkan lalat buah! Jangan tanya kalau homoseksual di kalangan simpanse lagi. Penelitian Augustin et al (2007) pada lalat homoseksual menunjukkan kalau homoseksual mereka dipengaruhi oleh gen yang mempengaruhi kekuatan syaraf. Para ilmuan bahkan bisa merekayasa gen ini yang membuat mereka mampu menentukan apakah anak lalat itu kelak homoseksual atau bukan.

Referensi

  1. Grosjean, Y., Grillet, M., Augustin, H., Ferveur, J.F., Featherstone, D. E. (2008) A glial amino-acid transporter controls synapse strength and courtship in Drosophila. Nature Neuroscience11, 54 – 61 (2008)
  2. Hughes GJ, Fearnhill E, Dunn D, Lycett SJ, Rambaut A, et al. (2009) Molecular Phylodynamics of the Heterosexual HIV Epidemic in the United KingdomPLoS Pathog, 2009; 5(9): e1000590
  3. Lalumière M L; Blanchard R; Zucker K J (2000) Sexual orientation and handedness in men and women: a meta-analysisPsychological bulletin
  4. Maylor, E. A., Reimers, S., Choi, J., Collaer, M.L., Silverman, I. (2007) Gender and Sexual Orientation Differences in Cognition Across Adulthood: Age Is Kinder to Women than to Men Regardless of Sexual OrientationArchives of Sexual Behaviour, April 2007
  5. McFadden, D dan Pasanen, E.G. (1997) Comparison of the auditory systems of heterosexuals and homosexuals: Click-evoked otoacoustic emissions. PNAS March 3, 1998 vol. 95 no. 5 2709-2713
  6. Kinnunen, L., Moltz, H., Metz, J., Cooper, M. (2003). Differential Brain Activation in Exclusively Homosexual and Heterosexual Men Produced by an SSRISociety for Neuroscience conference2003.
  7. Langstrom, N., Rahman, Q., Carlstrom, E., & Lichtenstein, P. (2009). Genetic and environmental effects on same-sex sexual behaviour: A population study of twins in Sweden.Archives of Sexual Behavior.
  8. Rosser, B.R.S., Bockting, W.O., Ross, M.W., Miner, M.H., & Coleman, E. (2008). The relationship between homosexuality, internalized homo-negativity, and mental health in men who have sex with men. Journal of Homosexuality, 55, 185-203.
  9. Savic, I dan Lindstrom, P. 2008. PET and MRI show differences in cerebral asymmetry and functional connectivity between homo- and heterosexual subjectsProceedings of the National Academy of Sciences, 2008
  10. Witelson, S.F., Kigar, D.L., Scamvougeras, A., Kideckel, D.M., Buck, B., Stanchev, P.L., Bronskill, M & Black, S. (2007). Corpus callosum anatomy in justify-handed homosexual and heterosexual men., Archives of Sexual Behavior, Nov 2007.

 

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s